Alhamdulillah hujan lagi, cukup deras. Semoga hujan yang membawa kebaikan. Udara terasa dingin, di luar rumah masih terdengar suara hilir mudik kendaraan. Mungkin karyawan pabrik yang akan kembali ke rumahnya atau berangkat menuju tempat kerjanya.

Jarum jam terus bergerak, 30 menit lagi film pemberontakan G30S PKI akan tayang di TV  One.
Film yang sudah beberapa tahun terakhir ini seakan hilang dari peredaran  dan mungkin sebagain masyarakat lndonesia sudah mulai melupakannya.
Yang ada dalam pikiran saya adalah jika film ini benar-benar tidak lagi bisa diakses, tentu generasi muda sekarang, dan anak cucu kita tidak akan pernah tahu sejarah pemberontakan PKI. Gerakan sekelompok orang anti agama yang ingin merebut dan menguasai negeri ini dengan cara-cara yang biadab.
Sehingga tidak ada lagi kewaspadaan bahwa sewaktu-waktu gerakan ini akan beraksi lagi dan melakukan hal yang sama seperti tahun 1948 dan 1965.

Baru 20 menit an kami menyaksikan film G30S PKI, di wa group alumni kimia UNNES  ada infrmasi salah satu adik kelas kami yang sedang dalam perjalanan dari Bandungan mobil nya mengalami mati lampu di sekitar pasar Jimbaran.
Saya dan suamipun segera meluncur menuju lokasi. Alhamdulillah tidak sulit menemukan mereka yang saat itu parkir di depan RM Sri Rama.
Sebenarnya saya belum pernah pernah berinteraksi secara langsung  dengan adik kelas saya tadi, karena dia baru masuk UNNES 2 tahun  setelah saya lulus.
Setelah kenalan dan berbasa-basi sebentar, pelan-pelan kami pandu mobil Widya menuju rumah kami yang berjarak 5 km dari Pasar Jimbaran.

Allah memberi kemudahan, di teras rumah sudah menunggu alumni  SMPIT  Cahaya Ummat tempat saya mengajar yang sudah bersiap-siap untuk memperbaiki mobil tersebut.
Jam 11.50 lampu mobil bisa menyala kembali. Widya dan keluarganya pun segera berpamitan untuk melanjutkan perjalanannya kembali menuju Jepara. Sungguh skenario Allah yang sangat indah untuk mempertemukan dan menguatkan silaturrohim 2 anak manusia yang selama ini hanya berinteraksi di dunia maya.

Aktifitas nonton film yang tertunda pun kami lanjutkan, sampai tuntas jam 02.00.
Dialog terakhir dari Untung dan kroni-kroninya sebelum bubar sangat menggetarkan hati saya.
"Sementara kita bubar, tapi kita akan terus bergerak. Gerakan kita tidak nyata, tapi efeknya harus nyata. Kita akan bergerak seperi hantu"
Kalimat yang selayaknya memicu semangat Bangsa lndonesia untuk terus waspada bahwa sampai detik ini mereka masih ada dan terus menyusun kekuatan.
Allah adalah sebaik-baik pelindung