Sore itu Karin uring- uringan. What happened?
Gegaranya ia baru saja baca status FB teman kerjanya. Bukan inspirasi atau motivasi yang ia dapatkan melainkan sindiran. Sebenarnya tidak pengen negatif thingking. Tapi kata- katanya itu, lho ! Membuat hati bagai diiris belati.

Mungkin saya, Anda, atau siapa pun,  pernah mengalami hal yang sama . Namun, reaksi yang muncul  berbeda- beda. Ada yang cuek dan tetap happy, ada yang baper tingkat dewa, ada juga yang menerima dengan legawa. Menganggapnya  sebagai kritik yang menggelitik. Anda termasuk yang mana?

Kadang kita mengetahui kondisi perasaan seseorang bukan karena berdialog langsung,  tapi karena membaca statusnya . Dia sedang gelisah, sedih, marah atau bahagia. Hari ini dia pergi ke mana, makan siang di mana, bersama siapa,  bukan hal yang rahasia. Informasi tentang itu semua terpapar di beranda medsosnya. Siapa pun bisa membaca, lantas memberi komentar sesukanya.

Apa yang dilakukan dan dialami, hampir setiap saat menghiasi dinding medsosnya. Bahkan jika sedang lalai, sesuatu yang bersifat rahasia dan privacy pun dipostingnya. Namun,  tentu kita harus menyadari, setiap orang punya style yang berbeda.

Bijak menggunakan medsos, sering sekali himbauan itu disampaikan. Bagaimana realisasinya? Salah satunya dengan selektif memposting status dan tidak share berita yang belum jelas kebenarannya. Termasuk tidak menyampaikan segala sesuatu yang berbau sara. Pertimbangkan kebaikan dan keburukannya, sebelum berceloteh di dunia maya. Karena akibatnya, kita bisa berurusan dengan hukum, bahkan bisa berakhir dengan penjara. No ... no ... no.  

Ada seorang teman  berstatus janda menyampaikan jika ia sering mendapat godaan. Tawaran menggiurkan untuk sebuah kenikmatan sering ia dapatkan. Menurut Anda apa pemicunya ? Lagi- lagi efek dari posting status beraneka warna, foto- foto dengan senyum memesona, cerita tentang dinamika hidupnya, dan sebagainya. So, jangan salahkan para lelaki jika tergelitik untuk menggoda.

Status di medsos ibarat tangan yang melambai- lambai.  Memanggil orang lain untuk datang menghampiri. Itu ungkapan seorang pria. Mungkin Anda tidak sepakat dengan pendapatnya, tapi realita itu memang ada. Seseorang terinspirasi melakukan kejahatan atau hal nakal lainnya karena melihat status di facebook, instagram, dan sebagaiya.

Beberapa waktu lalu hampir terjadi tawuran massal. Antara murid- murid tempat saya mengajar dengan sekelompok siswa dari sekolah yang berbeda kecamatan. Saat jam pulang, mereka sudah menghadang. Siap siaga melakukan pertempuran. Berapa umur mereka? Berkisar 13-15 tahun. 

 Emosi mereka terpicu dengan status di medsos. Sehingga dengan gagah berani datang demi sebuah harga diri. Untung ada warga yang datang memberikan informasi. Perkelahian pun bisa dihindari.

Letakkan medsos di tangan, bukan di hati. Menurut Anda, apa makna ungkapan tersebut?
Gadget dan medsos itu adalah salah satu sarana atau wasilah untuk mencapai kesuksesan. Gunakan sesuai keperluan. Jangan berlebihan agar tidak berubah peran.  Dari kawan menjadi lawan yang berpotensi menjadi penyebab kegagalan. Itu jika kita meletakkannya di hati dan mencintainya setengah mati. 

Bersamanya sepanjang hari, membuat kita lupa dengan tugas dan pekerjaan yang telah menanti. Akibatnya keberhasilan bisa melarikan diri. Lupa diri, terlalu asik bergumul dengan benda mati namun punya kesaktian tinggi. Melalaikan penggunanya dari sebuah kesadaran bahwa keberhasilan tidak mungkin bisa dicapai dengan rebahan. 

Bagaimana dengan baper yang tiba-tia nongol, saat membaca status kawan? 
Menurut saya, kalau kemunculannya membuat kita lebih peka, lebih semangat tampil dengan pribadi memesona, ini tentu baper yang luar biasa.
Bukan bawa perasaan, tapi bawa perubahan. Namun, jika baper tersebut memicu ketidakharmonisan hubungan,  harus segera kita lupakan. Segera move on. Sulit? Pasti lah. Apalagi bagi kaum perempuan. Tentu ini berat banget. 

Ayo,  sekuat tenaga kita lawan kebaperan. Agar bisa  tampil sebagai pemenang. 
Saatnya lambaikan tangan, good bye baper. Jangan biarkan kembali agar damai selalu memenuhi ruang hati.