Azan Zuhur berkumandang. Saatnya beristirahat, setelah selama 3,5 jam  bersama 20 orang guru mapel IPA Terpadu SMP menyimak presentasi best practice. 

Minggu, 17 November kemarin adalah pertemuan terakhir kegiatan PKP ( Peningkatan Kompetensi Pembelajaran ) berbasis zonasi. Sebagai puncak kegiatan setiap peserta diberi tugas untuk menuliskan pengalaman terbaik dalam mengajar setelah  selama satu bulan belajar bersama dan mendapat penguatan. 
Alhamdulillaah ... lega banget rasanya bisa melaksanakan tugas itu dengan baik, meskipun tentu saja masih banyak kekurangan. 

Lima hari sebelumnya, aku sempat agak shock.  Saat mengetahui,  jadwal presentasi  tertera namaku di urutan pertama. Why? Alasan klasik, sich. Naskah belum jadi. Bahkan memulai saja belum. Masih berburu ide. Tentu saja aku langsung konfirmasi, kepo kenapa aku bisa mendapat nomor urut satu . 
"Mengacu pada undangan, Bu, " jawab nara sumber kegiatan. 

Ya,  sudahlah. Kuterima saja keputusan beliau. Meskipun realitanya, pada daftar hadir namaku ada di urutan nomor 16. Alhamdulillah, saat action cukup lancar, tidak ada kendala yang berarti meskipun dibumbui sedikit grogi. Secara saya presentasi di hadapan para senior dan sesepuh yang sudah puluhan tahun malang melintang di dunia pendidikan. 
Namun,  sebenarnya ada beberapa  keuntungan maju presentasi di urutan pertama. Kondisi badan masih fresh , peserta masih fokus, ide dan gagasan masih orisinil, dan sebagainya. 

Satu persatu peserta PKP tampil dengan gayanya masing- masing.  
Pastinya apapun judul yang dipilih , merupakan pengalaman terbaik dalam  mengimplementasikan materi yang di dapat,  di sekolah masing- masing. Kami bisa saling  belajar dan mengambil inspirasi, agar menjadi guru yang selalu lekat di hati.

Pukul 15.45 WIB,  kegiatan PKP berakhir. Ditutup secars resmi oleh kepala SMP Negeri 4 Ungaran, Bapak Tri Widodo, SPd, MSi. Menggantikan kepala Disdikpora yang berhalangan hadir. 

Foto bersama, cipika- cipiki dan saling menyemangati adalah ritual terakhir yang kami lakukan sebelum berpisah . Tidak ketinggalan tentunya tanda tangan bukti penerimaan transport ( agenda puncak yang ditunggu semua peserta. He ... he ... )

Sambil menunggu jemputan, kuhampiri ponsel yang beberapa jam tadi kuabaikan. Astaghfirullah ... berita mengejutkan yang sejak pukul 15.00 WIB tadi terkirim di group keluarga besar Cahaya Ummat ( lembaga tempat aku mengabdikan diri sebagai pendidik) baru kubaca.
Salah seorang teman kami, lbu Sriyanti Ningsih, pengajar PAUD masuk ICU RSUD Ungaran. Sungguh, berita yang sangat mengejutkan. 
Berulangkali terpanjat doa untuk beliau, semoga kondisinya segera membaik. 

Minggu pagi ini, 17 November 2019 PAUDIT Cahaya Ummat menyelenggarakan kegiatan seminar parenting untuk wali murid. Bu Yanti mendapat tugas sebagai pembawa acara. Beliau pun datang lebih awal, tanpa sempat sarapan. Beliau juga bercerita kalau kurang tidur karena putra ketiganya yang berusia 5 tahun tadi malam demam.  Kebetulan sejak hari Jum'at suaminya juga ada agenda luar kota. Namun, karena komitmennya untuk melaksanakan tugas, diabaikan kondisi tubuhnya yang kurang fit. Bahkan tidak disadarinya juga jika tensi darahnya mulai meninggi kembali.

Acara demi acara berlangsung dengan lancar. Tibalah acara inti yaitu seminar parenting. Nara sumber pun naik ke panggung, memaparkan materi tentang " Membangun Kemandirian Pada Anak". 

 Beberapa menit berlalu. Bu Yanti, sebagai  MC tampak terkantuk- kantuk dan tidak nyambung saat diajak komunikasi. Beliau mengeluh punggungnya pegal. Badannya berkeringat, padahal saat itu AC di ruangan cukup dingin. 

Posisi MC kemudian digantikan oleh guru lain, agar beliau bisa istirahat. Sempat beberapa kali muntah. Namun,  tidak mau dibawa ke rumah sakit. Kepala sekolah berinisiatif telpon suaminya yang masih dalam perjalanan pulang. Diperkirakan baru tiga jam lagi sampai Ungaran. 

Bu Yanti harus segera dibawa  ke rumah sakit. Itulah rekom dari salah  seorang wali murid yang merupakan tenaga medis di sebuah Puskesmas. Dua orang guru, mengantar beliau  ke RSU terdekat  dari lokasi kegiatan ( P2NFI ). Namun, sebelum sampai ke tempat tujuan, Bu Yanti tidak sadarkan diri.

Resah dan gelisah mewarnai hati teman- teman yang membersamainya. Apalagi sampai beberapa jam  beliau belum siuman.
"Dok, mengapa tidak dirawat di ICU ?" Bu Ani mencoba berkomunikasi dengan dokter jaga.
"Mohon maaf, itu tidak akan banyak membantu. Kondisi pasien sudah kritis. Mohon diikhlaskan saja."

Infiormasi dari dokter tidak membuat mereka patah semangat. Lobi- lobi terus dilakukan. 15 menit kemudian Bu Yanti dipindah ke ruang ICU. 
Berdoa dan terus berdoa , itulah yang dilakukan teman- teman. Ayat- ayat Alqur'an terus dilantunkan, sambil terus berharap terjadi keajaiban. 

Tepat pukul 19.40 WIB tangis teman- teman pecah. Salah seorang guru terbaik  PAUDIT Cahaya Ummat itu,  pergi untuk selama- lamanya.
 Inna lillahi wa inna ilaihi roji'uun ...

Terbayang kesedihan empat buah hati yang ditinggalkan. Farros yang tahun ini baru masuk SMP, Umar yang masih duduk di kekas V SD, Fatih di TK A dan Dija yang belum genap berumur dua tahun. Semoga Allah SWT melimpahkan kekuatan dan kesabaran pada keluarga yang ditinggalkan.

Selamat jalan, Saudaraku. Allah memanggilmu saat engkau tengah  menjalankan amanah. Semoga ini sebagai pertanda akhir hidupmu adalah husnul khotimah.