Selasa, 10 Maret 2001 bertepatan dengan tanggal 2 Muharram 1422 H.
Malam itu, seperti biasa, setelah menunaikan ibadah salat Maghrib penghuni asrama guru tempat aku mengajar, berkumpul untuk makan malam. Sambil bercerita dan berdikusi tentang apa saja. Keriuhan suara 10 perempuan lajang itu benar-benar membuat suasana ruang makan asrama kami menjadi heboh.
Tiba-tiba kami dikejutkan oleh suara dering telpon
" Bu Rofah, telpon," teriak Bu Yanti.
Segera kuterima telpon dari Paklik Yono yang memintaku segera pulang karena sudah beberapa hari ini emak di kampung kurang sehat.
Segera kutinggalkan makan malam yang belum tuntas untuk berkemas-kemas.
Alhamdulillah aku tidak perlu berlama- lama menunggu bis Semarang -Solo yang akan membawaku pulang ke kampung kecilku di perbatasan Kota Salatiga dan Kab. Semarang
60 menit kemudian, tepatnya pukul 20.45 aku sudah sampai di tempat tujuan. Oleh bulik Win aku langsung dibawa ke kamar Emak.
Kulihat Emak yang selama ini kukenal sebagai perempuan kuat dan tangguh, terbaring lemah tak berdaya. Suaranya tidak jelas, hanya terdengar desahan napasnya yang terasa berat. Namun masih berusaha menirukan kalimat tahlil yang dibisikkan ke teliganya.
Sambil terisak kulantunkan ayat-ayat alqur'an, untuk melepaskan kepergian beliau menghadap Sang Pencipta.
Tepat pukul 22.00 WIB, emak meninggalkan dunia untuk selama-lamanya. Menyusul Bapak yang sudah mendahuluinya. Aku menjadi yatim piatu, di usia 26 tahun kurang enam bulan.
Sampai detik ini, saat umurku sudah berkepala empat, air mataku mengalir deras jika mengingat peristiwa itu. Seonggok penyesalan itu masih selalu mengganjal.
Sebagai anak bungsu yang selama ini membersamai emak, aku tidak bisa menemani dan merawat beliau di hari-hari terakhirnya.
Mengapa di hari Minggu itu aku tidak pulang menengok emak? Aku lebih memilih menghadiri seminar. Jika menyempatkan pulang, tentu aku masih bisa menyuapi emak dengan semangkok bubur kesukaanya. Akupun masih bisa memijat punggung dan kaki Emak yang sering terasa pegal. Aku masih bisa mendengarkan nasehat yang selalu beliau sampaikan saat aku pulang di akhir pekan.
Kini hanya do'a terbaik yang bisa kupanjatkan.
Semoga emak husnul khotimah. Allah SWT memberikan tempat terindah di sisi Nya.
Allahumaghfirlaha ... warhamha ... wa 'afiha ... wa'fu'anha
Allahumaghfirlaha ... warhamha ... wa 'afiha ... wa'fu'anha
Lahal fatihah

0 Komentar